MAKALAH
ESEHATAN MENTAL
“NAPZA
DAN HIV AID’S”
Dosen Pengampu: sri Adi Nyrhayati, MM

DI
SUSUN OLEH:
1.
Andri
Aditia
2.
Dian
Nafitasari
3.
Ika Apri
Lestari
4.
Imam
Mustaghfiri Nur
5.
Nurul
Fitriani
6.
Ruskanto
7.
Dwi Asih
Anggraeni
8.
Salamah
9.
Widias
Wijayanti A.B
PROGDI: III/A
BIMBINGAN
KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PANCASAKTI TEGAL
2012
KATA PENGANTAR
Assalammualaikum
wr.wb
Puji
syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat hidayah dan
inayahNya penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah kesehatan mental.
Makalah
ini disusun dengan memiliki beberapa tujuan diantaranya :
1. Melengkapi
nilai tugas mata kuliah kesehatan mental
2. Mencoba
memahami lebih mendalam mengenai napza dan hiv aids
Dalam
penyusunan laporan ini penyusun
tidak lupa mengucapkan banyak terimakasi pada keluarga kami
serta teman-teman yang selalu mendukung sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan dengan
tepat waktu, penyusun juga tidak lupa meminta maaf dimana penyusun menyadari
banyaknya kekurangan yang ada,hal ini tidak lain karena keterbatasan pngetahuan
yang dimiliki oleh penyusun.
Berkaitan
dengan hal tersebut maka penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Atas
perhatian,kritik serta saran dari para pembaca, penyusun ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum
wr.wb
Tegal,
september 2012
penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
NAPZA (Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk
kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf
pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi
sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan
(dependensi) terhadap NAPZA.
Masalah penyalahgunaan
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau istilah yang
populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat
berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya
penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.Meskipun dalam Kedokteran, sebagian
besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih
bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak
menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai
peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun
masyarakat luas khususnya generasi muda.
Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja,
tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia,
mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi
atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara
15–24 tahun. Tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap
NAPZA. Oleh karena itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya
terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda. Sektor kesehatan
memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA
HIV AIDS
Pecandu narkoba adalah orang yang senantiasa
memiliki dorongan untuk menggunakan obat/narkoba yang dicandui dan hal itu
menjadi prioritas utama dalam kehidupannya. Dalam pengertian sehari-hari sering
timbul pertanyaan: Apakah ada hubungan antara HIV/AIDS dan pecandu narkoba?
Maka dalam kesempatan ini, kami akan sedikit menelusuri pengertian HIV/AIDS dan
pecandu narkoba agar kita dapat terhindar dan virus dan penyakit yang
diramalkan akan mewabah di Indonesia, sedang peredaran narkoba yang semakin
sulit untuk dibendung, semoga anak cucu kita terhindar dan hal-hal yang tidak
kita inginkan.
Kita semua menyadari bahwa HIV/AIDS dan narkoba adalah
sangat mencemaskan kita, oleh karena itu perlu informasi yang benar serta kita
tidak boleh takut yang berlebihan sehingga kita telah capai serta karya Tuhan
akan lebih nyata pada ariak cucu kita.
Aids pertama kali di diagnosa di As
pada tahun 1981 dan sampai saat ini sudah menyerang sebagian besar negara
didunia, sehingga
telah menjadi masalah international karena dalam waktu realtif singkat/ cepat
terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara di dunia
baik negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia.
HIV singkatan
dan Human Immunodeeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel-sel darah
putih manusia sehingga jumlah sel darah putih manusia berkurang, dan
lama-kelamaan system kekebalan tubuh manusia melemah. Sedangkan AIDS adalah
singkatan dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome yang berarti kumpulan gejala
penyakit atau sindroma kareria menurunnya kekebalan tubuh sehingga beberapa
penyakit mudah datang menyerang,
dan menyebabkan kerusakan yang parah dan
sejauh ini belum diketahui obatnya.
Upaya pencegahan penularan AIDS melalui
hubungan seksual memerlukan pendidikan dan penyuluhan intensif dan ditunjukan
untuk mengubah perilaku seksual masyarakat tertentu sedemikian rupa sehingga
mengurangi kemungkinan penularan HIV. Untuk menunjang keberhasilan upaya
pencegahan tersebut terutam pada ank remaja atau SLTA, maka sebaiknya informasi
yang benar mengenai AIDS diberikan kepada mereka. Depkes telah dianggap dalam
hal ini dengan memberikan informasi yang benar mengenai AIDS, baik melaui media
cetak maupun media lainnya masyarakat umum. Sedangkan untuk menanggulangi AIDS
dari unsur host, Agen, dan Enfirenment, pemutusan transmisi tidak bisa
dilakukan pada host karena belum danya vaksin dan juga pada agen belum ada obat
penangkalnya. Satu – satunya jalan adalah dengan mengubah environtment , yaitu
dengan mengubah perilaku seksual.
B.
Rumusan
Masalah
Ø
NAPZA
1.
Pengertian
napza
2.
Macam mancam napza
3. Alasan penyalahgunaan napza
4.
Efek atau dampak dari penggunaan napza.
5.
Upaya
pencegahan penyalahgunaan napza
Ø
HIV
AIDS
1.
Pengertian HIV / AIDS.
2.
Proses terjangkitnya virus hiv aids.
3.
Tanda
dan gejala HIV / AIDS.
4.
Cara
penularan penyakit HIV / AIDS kaitanya dengan napza
5.
Pencegahan
dan pengobatan penyakit HIV/ AIDS.
6.
Dampak penyakit HIV / AIDS
C. Manfaat Penelitian
Diharapkan setelah
menbaca makalah ini para pembaca mengerti dan memahami tentang pengertian,
penyebab, penularan, pencegahan serta penanganan NAPZA dan HIV/AIDS.
Dan mampu dalam bersosialisasi denagn penderita guna memberi
dukungan bagi kelangsungan hidup penderita agar tidak merasa di kucilkan bahkan
tidak di anggap dalam masyarakat.dan mampu hidup normal tanpa memikirkan beban
sosial yang tinggi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Narkoba
Sebelum Masehi
orang-orang Mesopotamia telah membudidayakan tanaman poppy yang berkhasiat
mengurangi rasa nyeri dan memberi efek nyaman zat ini dalam bahasa Yunani disebut opium
atau candu, kemudian menyebar ke India, Cina dan ke Asia lainnya termasuk
Indonesia.
Pada tahun 1803
seorang apoteker Jerman bernama Friednich Wilhelm Sentuner berhasil mengisolasi
bahan aktif opium yang memberi efek narkotika dan diberi nama Morfm yang berasal
bahasa Latin Morpheus yang berarti dewa mimpi Yunani. Selain morfin dan heroin,
ada jenis narkoba lain yaitu kokain (Erythroxylor coca) berasal dan tumbuhan
coca yang tumbuh di Peru dan Bolivia.
Sejak tahun
2005, Indonesia sudah termasuk ke dalam tiga besar peredaran narkoba dunia, terutama
jenis shabu-shabu (crystal, methamphetammne) setelah Cina dan Amerika Seikat.
Narkoba dibuat berbagai bentuk berupa pil,cairan, bubuk, permen berwarna-warni
dan punya aneka rasa, salah satu permen narkoba bernama yaba yang rasanya manis
dan warnanya menarik.Permen berisi narkoba bisa dimakan akan menimbulkan pusing
dan sempoyongan, dan dapat kecanduan. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam
membeli jajanan, dan waspada terhadap orang
yang menawari permen atau makanan gratis, agar kita berani menolaknya.
a.
Pengertian napza (Narkotika, Psikotropika, dan
Zat Adiktif)
Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat
yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang ( pikiran,
perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi. NAPZA
sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada
otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika,
Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya.
b.
Macam macam napza
1. Narkotika
Narkotika adalah: zat atau obat yang
berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang
mengandung candu sehingga dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran
dalam berperilaku serta menimbulkan rasa ngantuk yang mendalam, serta
menimbulkan halusinasi pada pengguna hingga dapat menimbulkan efek ketergantungaan.
Contoh ; Heroin, Kokain, Ganja, Morfin,
Petidin,codein.
v Narkotika
terdiri dari 3 golongan
:
1. heroin, kokain, dan ganja
Merupakan
jenis Narkotika yang hanya dapat digunakan
untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi,
serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
2. Morfin dan Petidin
Merupakan
Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi dan atau untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan.
3. Codein
Merupakan
jenis Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan ketergantungan.
2. psikotropika
:
Psikotropika adalah : zat atau obat,
baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif
melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktifitas mental dan perilaku.Psikotropika meliputi : ekstasi,
amphetamine, phenobarbital, diazepam, nitrazepam
v Psikotropika
terdiri dari 4 golongan:
1. Ekstasi
Golongan I Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai
potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
2. Amphetamine.
Golongan II Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
3. Phenobarbita
Golongan III Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh :
Phenobarbital.
4. diazepam,
nitrazepam
Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam
terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan sindroma ketergantungan.
3. Zat adiktif
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat
yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
·
Minuman alkohol
·
Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut
) mudah menguap berupa senyawa organik, yang sering disalah gunakan adalah ;
lem, tiner, penghapus cat kuku, bensin.
·
Tembakau : tembakau yang mengandung nikotin
Ø Berdasarkan bahan pembentuknya zat adiktif meliputi:
1. Alam
diambil dari tanaman seperti ganja, opium, kokaina, jamur, kaktus, tembakau, kopi, pinang, sirih, dll.
2. Sintetis
terbuat dari bahan kimia atau farmasi dicampur dengan bahan-bahan alami seperti: amphetamin, kodein, lem, dll.
1. Alam
diambil dari tanaman seperti ganja, opium, kokaina, jamur, kaktus, tembakau, kopi, pinang, sirih, dll.
2. Sintetis
terbuat dari bahan kimia atau farmasi dicampur dengan bahan-bahan alami seperti: amphetamin, kodein, lem, dll.
Ø Didasarkan pada cara kerja zat adiktif meliputi tiga efek tahapan pada tubuh
1. Tahap awal ( menambah semangat/gairah )
Tahap awal, zat ini mampu mendorong kinerja jantung, memompa paru-paru dengan lebih layak dan memungkinkan merangsang berbagai hormon di otak yang menyebabkan rasa segar dan bersemangat.
2. Tahap kedua ( menperlambat fungsi organ tubuh )
Pada tahap ini mampu memperlambat detak jantung, denyut nadi, paru-paru dan mengurangi kinerja yang memperlambat rangsangan di otak yang menyebabkan rasa ngantuk atau rasa tidur yang mendalam.
3. Tahap ketiga ( mengacaukan sistem syaraf otak )
Tahap ini mulai mampu mempengaruhi sistem saraf pusat, otak dan tulang belakang sehingga mereka dapat menyebabkan halusinasi, melihat dan merasakan realitas palsu.
Ø Tentang cara menggunakan
ü Taruh dalam mulut (oral)
ü Disuntikan ke tubuh (Injection)
ü Ditempatkan di luka
ü Ini (mengendus) / hirup (dihirup)
ü Dimasukkan melalui anus (anal penyisipan)
Ø Berdasarkan bentuk
ü Pengenceran
ü Pasta
ü Pil / kapsul
ü Crystal / blok
ü Powder
ü Gas
ü Lapisan kertas (kertas diresapi)
Ø Tingkat
Pemakaian Zat Adiktif.
a.
Pemakaian
coba-coba (experimental use), yang bertujuan hanya ingin mencoba memenuhi rasa ingin
tahu. Sebagian pemakai berhenti menggunakannya dan sebagian lain meneruskan.
b.
Pemakaian
sosial (social
use)yang bertujuan hanya untuk bersenang-senang (saat rekreasi atau santai). Sebagian
pemakai tetap bertahan pada tahap ini,namun sebagai lagi meningkat ke tahapan
selanjutanya.
c.
Pemakaian
situasional (situasional use) pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu
(ketegangan,kesedihan,kecewaan) dengan maksud menghilangkan perasaan.
d.
Penyalahgunaan (abuse),
pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang bersifat patologik atau klinis
(menyimpang), minimal satu bulan lamanya, dan telah terjadi gangguan dalam
fungsi sosial atau pekerjaannya.
e.
Ketergantungan
(defendence), telah terjadi toleransi dan gejala putus zat, bila pemakaian zat
dihentikan atau dikurangi atau tidak ditambah dosisnya.
Ø Pola pemakaian coba-coba
(eksperimental)
Pemakaian coba-coba ini dilakukan oleh seseorang yang
sebelumnya belum pernah mengkonsumsi narkoba. Biasanya hal ini terjadi pada
remaja, yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Tentunya, ketika pertama
kali mencoba tidak langsung dengan dosis yang tinggi, alias dengan dosis kecil.
Namun, jika hal ini dibiarkan, maka akan sangat berbahaya, karena bisa
berefek pada ketergantungan.
Ø Pemakaian sosial
Pemakaian narkoba untuk pergaulan (saat berkumpul atau pada
acara terrtentu).
Biasanya hal ini terjadi karena ingin diakui/diterima oleh kelompoknya.
Mula-mula narkoba diperoleh secara gratis atau dibeli dengan harga murah.
Namun, lama-lama jika si penderita sudah mulai ketergantungan, tentunya harga
akan naik berlipat-lipat.
Ø Pemakaian situasional
Pemakaian
pada saat mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan, kesedihan, kekecewaan, dan
sebagainya, dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.
Ø Ketergantungan
Ini adalah tingkatan yang sangat berbahaya. Si pemakai akan
selalu berupaya memperoleh narkoba dengan cara apapun tidak peduli cara yang
digunkannya itu baik atau buruk. Berbohong, menipu, mencuri, dan tindakan
kriminal lainnya bisa saja ia lakukan, asal ia bisa mendapatkan obat terlarang
itu. Pengguna sudah tidak dapat lagi mengontrol penggunaan narkoba. Narkoba
telah menjadi pusat kehidupannya. Hubungan dengan keluarga, teman-temannya
menjadi rusak berantakan.
v Zat adiktif, berakibat antara lain :
·
Gangguan
fisik : gangguan dan kerusakan pada hati, jantung, pankreas, lambung dan
otot.
·
Gangguan
jiwa : gangguan otak/daya ingatan, kemampuan belajar menurun, mudah tersinggung,
mengasingkan dari lingkungan dsb.
·
Gangguan
Kamtibmas : akibat minuman keras akan menekan pusat pengendalian seseorang,
sehingga yang bersangkutan menjadi berani dan agresif, yang kemudian
diekspresikan dengan cara-cara yang melanggar norma-norma, bahkan tidak sedikit
yang melakukan tindakan kriminal
4. Penyebab
penyalahgunaan napza
1.
Faktor individual :
Kebanyakan dimulai pada saat remaja,
sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial
yang pesat. Ciri – ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan
NAPZA :
a. Cenderung
memberontak, Putus sekolah
b. Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya :
depresi, cemas.
c. Perilaku
yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada, Kurang menghayati iman dan
kepercayaan
d. Kurang percaya
diri, Murung, pemalu, pendiam
e. Mudah
kecewa, agresif dan destruktif
f. Merasa bosan
dan jenuh
g. Keinginan
untuk bersenang – senang yang berlebihan
h. Kemampuan
komunikasi yang rendah
2.
Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan
lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun
masyarakat.
ü Lingkungan Keluarga :
a. Hubungan
kurang harmonis, Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
b. Orang tua
terlampau sibuk, Orang tua yang bercerai, Orang tua otoriter
c. Kurangnya
orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
d. Kurangnya
kehidupan beragama.
ü Lingkungan Sekolah :
a. Sekolah yang kurang disiplin
b. Sekolah terletak dekat tempat hiburan
c. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan
diri secara kreatif dan positif
d. Adanya murid pengguna NAPZA.
ü Lingkungan Teman Sebaya :
a. Berteman
dengan penyalahguna pengguna NAPZA.
b. Tekanan atau
ancaman dari teman.
ü Lingkungan Masyrakat / Sosial :
a.
Lemahnya penegak hukum
b.
Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang
mendukung.
Faktor – faktor tersebut diatas
memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan
tetapi makin banyak faktor – faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang
menjadi penyalahguna NAPZA.
5.
JENIS
NAPZA YANG DISALAHGUNAKAN
Jenis NAPZA / NARKOBA
sering disalahgunakan didalam lingkungan masyarat yang meliputi
Ø Opiada, terdapat 3 golonagan besar :
a. Opioda alamiah ( Opiat ) :
Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin /
putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang
tidak murni berwarna putih keabuan.Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah
menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw, yang kekuatannya 10
kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali
lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan oleh
dokter sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi,
penderita cancer.Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian
menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk menikmati efek rasanya dan pada
taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak mempunyai
keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri, mereka
merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh.
1.
Morfin
Merupakan zat aktif (narkotika) yang diperoleh dari candu
melalui pengolahan secara kimia. Umumnya candu mengandung 10% morfin. Cara
pemakaiannya disuntik di bawah kulit, ke dalam otot atau pembuluh darah
(intravena)
- Menimbulkan
euforia.
- Mual,
muntah, sulit buang hajat besar (konstipasi).
- Kebingungan
(konfusi).
- Berkeringat.
- Dapat
menyebabkan pingsan, jantung berdebar-debar.
- Gelisah
dan perubahan suasana hati.
- Mulut
kering dan warna muka berubah.
2.
Heroin atau putaw
Merupakan golongan narkotika semisintetis yang dihasilkan
atas pengolahan morfin secara kimiawi melalui 4 tahapan sehingga diperoleh
heroin paling murni berkadar 80% hingga 99%. Heroin murni berbentuk bubuk putih
sedangkan heroin tidak murni berwarna putih keabuan (street heroin). Zat ini
sangat mudah menembus otak sehingga bereaksi lebih kuat dari pada morfin itu
sendiri. Umumnya digunakan dengan cara disuntik atau dihisap.
Timbul
rasa kesibukan yang sangat cepat/rushing sensastion (± 30-60 detik) diikuti rasa
menyenangkan seperti mimpi yang penuh kedamaian dan kepuasan atau ketenangan
hati (euforia). Ingin selalu menyendiri untuk menikmatinya.
- Denyut
nadi melambat.
- Tekanan
darah menurun.
- Otot-otot
menjadi lemas/relaks.
- Diafragma
mata (pupil) mengecil (pin point).
- Mengurangi
bahkan menghilangkan kepercayaan diri.
- Membentuk
dunia sendiri (dissosial) : tidak bersahabat.
- Penyimpangan
perilaku : berbohong, menipu, mencuri, kriminal.
- Ketergantungan
dapat terjadi dalam beberapa hari.
- Efek
samping timbul kesulitan dorongan seksual, kesulitan membuang hajat besar,
jantung berdebar-debar, kemerahan dan gatal di sekitar hidung, timbul
gangguan kebiasaan tidur.
Jika
sudah toleransi, semakin mudah depresi dan marah sedangkan efek euforia semakin
ringan atau singkat
3. Kokain
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih
mudah larut
Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
Mempunyai 2 bentuk yakni bentuk asam (kokain hidroklorida)
dan bentuk basa (free base). Kokain asam berupa kristal putih, rasa sedikit
pahit dan lebih mudah larut dibanding bentuk basa bebas yang tidak berbau dan
rasanya pahit. Nama jalanan kadang disebut koka, coke, happy dust, snow,
charlie, srepet, salju, putih. Disalahgunakan dengan cara menghirup yaitu
membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus di atas
permukaan kaca dan benda yang mempunyai permukaan datar. Kemudian dihirup
dengan menggunakan penyedot atau gulungan kertas. Cara lain adalah dibakar
bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Menghirup kokain berisiko luka
pada sekitar lubang hidung bagian dalam.
- Menimbulkan keriangan,
kegembiraan yang berlebihan (ecstasy).
- Hasutan (agitasi), kegelisahan,
kewaspadaan dan dorongan seks.
- Penggunaan jangka panjang
mengurangi berat badan.
- Timbul masalah kulit.
- Kejang-kejang, kesulitan
bernafas.
- Sering mengeluarkan dahak atau lendir.
- Merokok kokain merusak paru
(emfisema).
- Memperlambat pencernaan dan
menutupi selera makan.
- Paranoid.
- Merasa seperti ada kutu yang
merambat di atas kulit (cocaine bugs).
- Gangguan penglihatan (snow
light).
- Kebingungan (konfusi).
- Bicara seperti menelan (slurred
speech).
4. Kanabis
Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai
rokok atau dengan menggunakan pipa rokok.Efek rasa dari kanabis tergolong
cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebihan (
euphoria ), sering berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan
tinggi, sensitive, kering pada mulut dan tenggorokan.
Berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica. Pada
tanaman ini terkandung 3 zat utama yaitu tetrahidrokanabinol, kanabinol dan
kanabidiol. Cara penggunaannya dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok
atau dengan menggunakan pipa rokok.
- Denyut jantung atau nadi lebih
cepat.
- Mulut dan tenggorokan kering.
- Merasa lebih santai, banyak
bicara dan bergembira.
- Sulit mengingat sesuatu kejadian.
- Kesulitan kinerja yang
membutuhkan konsentrasi, reaksi yang cepat dan koordinasi.
- Kadang-kadang menjadi agresif
bahkan kekerasan.
- Bilamana pemakaian dihentikan
dapat diikuti dengan sakit kepala, mual yang berkepanjangan, rasa
letih/capek.
- Gangguan kebiasaan tidur.
- Sensitif dan gelisah.
- Berkeringat.
- Berfantasi.
- Selera makan bertambah.
5. Amphetamine
Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan
dan juga tablet.
Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air.
Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air.
Nama generik/turunan amfetamin adalah D-pseudo epinefrin
yang pertama kali disintesis pada tahun 1887 dan dipasarkan tahun 1932 sebagai
pengurang sumbatan hidung (dekongestan). Berupa bubuk warna putih dan
keabu-abuan. Ada 2 jenis amfetamin yaitu MDMA (metil dioksi metamfetamin)
dikenal dengan nama ectacy. Nama lain fantacy pils, inex. Metamfetamin bekerja
lebih lama dibanding MDMA (dapat mencapai 12 jam) dan efek halusinasinya lebih
kuat. Nama lainnya shabu, SS, ice. Cara penggunaan dalam bentuk pil diminum.
Dalam bentuk kristal dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan
asapnya dihisap melalui hidung, atau dibakar dengan memakai botol kaca yang
dirancang khusus (bong). Dalam bentuk kristal yang dilarutkan dapat juga
melalui suntikan ke dalam pembuluh darah (intravena).
- Jantung
terasa sangat berdebar-debar (heart thumps).
- Suhu
badan naik/demam.
- Tidak
bisa tidur.
- Merasa
sangat bergembira (euforia).
- Menimbulkan
hasutan (agitasi).
- Banyak
bicara (talkativeness).
- Menjadi
lebih berani/agresif.
- Kehilangan
nafsu makan.
- Mulut
kering dan merasa haus.
- Berkeringat.
- Tekanan
darah meningkat.
- Mual
dan merasa sakit.
- Sakit
kepala, pusing, tremor/gemetar.
- Timbul
rasa letih, takut dan depresi dalam beberapa hari.
- Gigi
rapuh, gusi menyusut karena kekurangan kalsium.
6. LSD ( Lysergic Acid )
Termasuk dalam golongan halusinogen. Nama jalanan : acid, trips, tabs,
kertas. Bentuknya biasa didapatkan dalam
bentuk kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak
warna dan gambar dan juga berbentuk pil dan kapsul. Cara penggunaan : meletakan LSD pada
permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30 – 60 menit kemudian, menghilang
setelah 8 – 12 jam.Efek rasanya terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu
sehingga timbul obsesi yang sangat indah dan bahkan menyeramkan dan lama – lama
menjadikan penggunaanya paranoid.
- Timbul rasa yang disebut
Tripping yaitu seperti halusinasi tempat, warna dan waktu.
- Biasanya halusinasi ini
digabung menjadi satu hingga timbul obsesi terhadap yang dirasakan dan ingin
hanyut di dalamnya.
- Menjadi sangat indah atau
bahkan menyeramkan dan lama kelamaan membuat perasaan khawatir yang
berlebihan (paranoid).
- Denyut jantung dan tekanan
darah meningkat.
- Diafragma mata melebar dan
demam.
- Disorientasi.
- Depresi.
- Pusing
- Panik dan rasa takut
berlebihan.
- Flashback (mengingat masa lalu)
selama beberapa minggu atau bulan kemudian.
- Gangguan persepsi seperti
merasa kurus atau kehilangan berat badan.
7. Sedatif – hipnotik ( benzodiazepin)
Termasuk golongan zat sedative ( obat penenang ) dan
hipnotika ( obat tidur ).
Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus.Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang, stress, serta sebagai obat tidur.
Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus.Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang, stress, serta sebagai obat tidur.
8. Solvent / inhalasi
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya
: Aerosol, Lem, Isi korek api gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap
bensin.Biasanya digunakan dengan cara coba – coba oleh anak di bawah umur, pada
golongan yang kurang mampu.Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala berputar,
halusinasi ringan, mual, muntah gangguan fungsi paru, jantung dan hati.
- Pada
mulanya merasa sedikit terangsang.
- Dapat
menghilangkan pengendalian diri atau fungsi hambatan.
- Bernafas
menjadi lambat dan sulit.
- Tidak
mampu membuat keputusan.
- Terlihat
mabuk dan jalan sempoyongan.
- Mual,
batuk dan bersin-bersin.
- Kehilangan
nafsu makan.
- Halusinasi.
- Perilaku
menjadi agresif/berani atau bahkan kekerasan.
- Bisa
terjadi henti jantung (cardiac arrest).
- Pemakaian
yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan syaraf otak menetap, keletihan
otot, gangguan irama jantung, radang selaput mata, kerusakan hati dan
ginjal dan gangguan pada darah dan sumsum tulang. Terjadi kemerahan yang
menetap di sekitar hidung dan tenggorokan.
- Dapat
terjadi kecelakaan yang menyebabkan kematian di antaranya karena jatuh,
kebakar, tenggelam yang umumnya akibat intoksikasi/keracunan dan sering
sendirian. bat intoksikasi/keracunan dan sering sendirian.
9. Alkohol
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. Diperoleh dari proses fermentasi
madu, gula, sari buah dan umbi – umbian yang mengahasilkan kadar alkohol tidak
lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan
kadar alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 % yang akan menimbulkan efek
euphoria, bahkan penurunan kesadaran.
Dikenal
3 golongan minuman berakohol yaitu
1. golongan A; kadar etanol 1%-5% (bir),
2. golongan B; kadar etanol 5%-20% (minuman
anggur/wine) dan
3. golongan C; kadar etanol 20%-45%
(Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput).
Pada
umumnya alkohol :
- Akan menghilangkan perasaan
yang menghambat atau merintangi.
- Merasa lebih tegar berhubungan
secara sosial (tidak menemui masalah).
- Merasa senang dan banyak
tertawa.
- Menimbulkan kebingungan.
- Tidak mampu berjalan.
6. Efek atau dampak dari penggunaan
napza
Ø
Efek
yang di timbulkan dari pengunaan napza
Berdasarkan
efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi
3 golongan :
1. Golongan Depresan ( Downer ). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi
mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi
tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri.
Contohnya:
Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik (obat tidur)
dan Tranquilizer (anti cemas ).
2. Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang merangsang
fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya
menjadi aktif, segar dan bersemangat.
Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
3. Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat
menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan
seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat
terganggu.
Contoh: Kanabis ( ganja )
Ø Dampak sosial
pengunaan napza meliputi:
a. Di
Lingkungan Keluarga :
·
Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu,
sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
·
Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
·
Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong,
mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.
·
Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari
sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan
keuangan..
b. Di
Lingkungan Sekolah :
·
Merusak disiplin dan motivasi belajar.
·
Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran
pelajar.
·
Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara
sesama teman sebaya.
c. Di
Lingkungan Masyarakat :
·
Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau
siswa yang telah menjadi ketergantungan.
·
Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan,
pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah.
7. Upaya pencegahan
penyalahgunaan napza:
Upaya pencegahan dalam penyalahgunaan pada napza
meliputi 3 hal :
1.
Pencegahan primer :
Mengenali remaja resiko tinggi
penyalahgunaan NAPZA dan melakukan intervensi. Upaya ini terutama dilakukan
untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan
NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan
NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak
anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh kembang anak
dapat diatasi dengan baik.
2.
Pencegahan Sekunder :
Mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan
NAPZA.
3.
Pencegahan Tersier :
Merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.
Diharapkan dengan mengerti adanya
upaya pencegahan mampu dalam mengurangi proses berkembangnya napza dalam
lingkungan masyarakat,khususnya bagi para remaja yang belum paham betul
mengenai bahaya napza dalam kelangsungan masa depanya.
B. Sejarah HIV/AIDS
Pada tahun 1969 seorang remaja meninggal di St. Louis, AS; tahun 1976
seorang dokter asal Denmark meninggal sepulangnya dan Zaire dengan penyakit
pneumocytis caranii; tahun 1979 dua orang pria meninggal di New York dan
diagnosis sarkoma kaposi; pada tahun 1980-an pernah dilaporkan kasus-kasus serupa di Kopenhagen
dan Amerika Serikat. Pads pertengahan 1980-an kasus-kasus AIDS pun meningkat
dengan cepat dan menyebar
ke seluruh dunia. Namun pada tahun 1950-an di Afrika pernah ditemukan sampel darah yang mengandung HIV.
Pada pertengahan
tahun 1981, Pusat Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control, CDC), di
Amerika Serikat melaporkan adanya lima orang pria di Los Angeles yang semula
sehat yang kemudian menderita sejenis radang paru yang jarang diperoleh, akibat
parasit pneumocystis caranii yang biasanya tidak merugikan manusia.
Tidak lama kemudian dilaporkan 26 pria di New York den Los
Angeles yang semula sehat kemudian menderita kanker kulit yang tidak lazim, yang kemudian kasus
AIDS dilaporkan April 1987 di Bali, kasus kedua dilaporkan pada bulan November
1987 di Jakarta. Kedua petiderili tersebut warga negara asing dan
meninggal di Indonesia. Pada bulan Juni 1988 dilaporkan kasus meningalnya
seorang pria Indonesia karena kasus AIDS di Bali. Pada bulan April 1986 seorang
wanita Indonesia meninggal di salah satu Rumah Sakit di Jakarta karena AIDS
diduga terjadi melalui transfusi darah.
a.
Pengertian
HIV / AIDS
HIV merupakan singkatan dari ’Human Immunodeficiency
Virus’. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem
kekebalan tubuh manusia, dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi
virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus,
yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.
Apakah AIDS?
AIDS adalah singkatan dari ‘acquired immunodeficiency
syndrome’ dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait
dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah ditafsirkan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh
dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV
telah berkembang menjadi AIDS.
b.
Proses
terjangkitnya virus HIV / AIDS
Virus
HIV tidak memiliki sifat seperti virus flu burung dapat menular mealui udara.Virus
HIV terdapat
di darah seseorang yang terinfeksi (termasuk darah haid), air susu ibu, air
mani dan cairan vagina
Proses penularan ini bisa melalui hubungan seksual dengan
penderita ( homo maupun heteroseksual), tranfusi darah yang mengandung virus
HIV, jarum suntik atau alat tusuk lainya yang baru saja dipakai oleh penderita
atau dengan alat yanga mana alat ini telah melukai penderita kemudian dipakai
orang lain yang hingga luka juga ( pisau cukur , sikat gigi, dll)
Virus
ini dapat berkembang dengan cepat bila masuk melalui luka dan sel – sel tubuh
manusia yang cocok, seperti sel darah putih type limposit T4 dan sel makrophag
(sel pemakan kuman),Jika sel darah putih limposit T4 tersebut lemah dan mati,
maka kekebalan tubuh akan menurun sehingga akan mempermudah kemingkinan
terinfeksi penyakit lain atau timbulnya kelainan akibat kuman yang terinfeksi.
Proses dari mulai
terinfeksinya tubuh oleh virus HIV sampai timbul AIDS memerlukan waktu 5-10
tahun. Pada anak umumnya lebih pendek dari orang dewasa 2 sampai 24 bulan.
ü Proses
penyebaran virus hiv dalam tubuh diantaranya sebagai berikut:
- Pada saat berhubungan seks tanpa kondom, HIV
dapat menular dari darah orang yang terinfeksi, air mani atau cairan
vagina langsung ke aliran darah orang lain, atau melalui selaput mukosa
yang berada di bagian dalam vagina, penis atau dubur.
- HIV dapat menular melalui transfusi darah yang
mengandung HIV atau melalui alat suntik atau alat tindakan medis lain yang
tercemar.
- HIV dapat disalurkan ke bayi saat kehamilan,
kelahiran, dan menyusui. Bila tidak ada intervensi, kurang lebih sepertiga
bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu dengan HIV akan tertular.
Setelah terinfeksi HIV, individu akan melakukan
perlawanan imun yang intensif. Sel-sel B menghasilkan antibodi-antibodi
spesifik terhadap berbagai protein virus. Ditemukan antibodi netralisasi
terhadap regio-regio di gp120 selubung virus dan bagian eksternal gp41.
c.
Tanda
dan Gejala Penyakit HIV / AIDS
Gejala
penderita AIDS dapat ringan sampai berat. Pembagian tingkat klinis penyakit
infeksi HIV. Dibagi sebagai berikut:
1.
Tahap
awal infeksi HIV,
gejalanya mirip influenza (demam, rasa lemah, lesu,
sendi terasa nyeri, batuk, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar). Gejala
ini biasanya hanya berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu saja, lalu
hilang dengan sendirinya.
2.
Tahap
tanpa gejala,
meskipun ia tidak menunjukkan gejala, tetapi pada tes
darah ditemukan antibodi HIV dan disebut HIV+. Masa ini dapat berlangsung
bertahun-tahun (5-7) tahun.
3.
Tahap
ARC (AIDS Related Complex),
muncul gejala-gejala
AIDS. ARC adalah istilah bila didapati dua atau lebih gejala yang
berlangsung selama tiga bulan atau lebih, yaitu demam disertai keringat malam,
penurunan berat badan lebih dari 10%, kelemahan tubuh yang mengganggu aktivitas
sehari-hari, pembesaran kelenjar secara lebih luas, diare (mencret) berkala
atau terus-menerus dalam waktu lama tanpa sebab yang jelas, batuk dan sesak
napas lebih dari satu bulan, kulit gatal dan bercak-bercak merah kebiruan, sakit
tenggorokan dan pendarahan yang tak jelas sebabnya.
4.
Tahap
AIDS,
muncul infeksi lain yang berbahaya (TBC, jamur, dan
lain-lain) karena kekebalan tubuh telah demikian rusak, yang disebut infeksi
oportunistik. Disamping itu, dapat terjadi kanker kulit dan kanker kelenjar
getah bening.
5.
Tahap
gangguan otak (susunan saraf pusat),
pada tahap ini dapat mengakibatkan kematian sel otak
dan gangguan mental. Gangguan mental yang terjadi berupa demensia (gangguan
daya ingat), penurunan kesadaran, gangguan psikotik, depresi, dan gangguan
saraf lainnya.
d.
Cara
Penularan HIV / AIDS
ü Cara-cara
penularan penykit HIV / AIDS yaitu:
1. Hubungan
Seksual
Pada
hubungan seksual, baik antara laki-laki dengan perempuan atau pada
hubungan
homoseksual akan terjadi
kerusakan jaringan kemaluan secara mikroskopis. Infeksi HIV akan masuk dan
menular melalui mikrolesi dan menginfeksi drah wanita atau partner seksual dari
penderita dengan HIV atau penyakit AIDS tersebu.
2. Melalui
Pembuluh Darah
Penularan
dapat terjadi pada pemberian darah (transfusi darah) yang berasal dari
penderita HIV / AIDS. Penularan juga dapat terjadi akibat pemakaian peralatan
yang telah terkena darah atau serum darah dari tubuh penderita HIV / AIDS.
Penularan dapat juga terjadi bila memakai peralatan kedokteran lain yang tidak
dicuci dengan baik.
3. Melalui
Masa Prenatal
Penularan melalui ibu ke bayi dapat
terjadi baik selama dalam kandungan melalui ari-ari, pada waktu persalinan
maupun selama menyusui anak
Ø Cairan
yang tidak mengandung virus HIV pada
penderita HIV+ antara lain:
a. Air
liur/ air ludah/ saliva
b. Feses
c. Air
mata
d. Air
keringat
e.
Air seni/ urine
Ø
Infeksi
HIV TIDAK ditularkan melalui:
a.
Santai
kontak seperti memeluk
b.
Gigitan
nyamuk
c.
Partisipasi
dalam olah raga
d.
Menyentuh
item yang di sentuh oleh orang yang terinfeksi virus
e.
Perilaku
Resiko Tinggi
Pada
mulanya kaum gay, para pecandu narkotika, pekenja seks komersial, gigolo,
waria, sopir-sopir truk, pelaut sering dikelompokkan perilaku resiko tinggi.
Namun istilah tersebut bagi mereka tidak tepat karena selama mereka dapat
berperilaku yang tidak menyebabkan ditulari HIV make tidak termasuk resiko
tinggi. Sebaliknya meneka yang tidak termasuk kelompok tersebut di atas,
misalnya remaja, siswa sekolah, pengusaha, bahkan ibu rumah tangga tidak
otomatis bebas AIDS.
AIDS saat ini bisa memasuki kehidupan
siapa saja, tanpa memandang umur, jenis kelamin, orientasi seksual, pekerjaan,
atau gaya hidup. Yang membuat orang memiliki resiko tinggi adalah perilakunya.
Apa yang dilakukannya itu yang menentukan resiko tinggi terhadap penularan HIV,
tidak peduli kelompoknya.
Yang termasuk perilaku resiko tinggi
adalah seringnya berganti-ganti pasangan seksual, selain itu penggunaan jarum
suntik bekas orang lain yang membuka peluang orang terinfeksi HIV.
f. Keterkaitan Penyalahgunaan Napza dengan HIV/AIDS
Walau tidak seluruh pengguna NAPZA,
namun sebagian besar pengguna beberapa jenis NAPZA cenderung menggunakan Jarum
Suntik sebagai media pemakaiannya. Penggunaan jarum suntik yang tidak seril dan
dilakukan secara bergantian sangat rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS
(tertular maupun menularkan).
Hal yang lebih mengerikan, Pengguna Napza yang
merupakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) akan membuatnya lebih cepat memasuki
fase AIDS. Hal ini dikarenakan karakteristik NAPZA yang bersifat menggerogoti
organ tubuh. Termasuk juga perokok, karena rokok memiliki sifat yang sama.
Para pecandu
narkoba dalam menggunakan jerum suntik yang telah dipakai orang lain, merupakan
resiko paling tinggi untuk tertular HIV, karena terjadi pertukaran darah orang
lain yang mungkin mengidap HIV. Narkoba yang berarti narkotika dan obat/bahan
berbahaya menyebabkan pemakainya kehilangan penalaran tenteng akal sehat,
sehingga pada saat melakukan hubungan seks para pemakai narkoba tidak terpikir
untuk melakukan hubungan seks secara aman, sehingga peluang tertular HIV sangat
besar.
Secara substansi HIV dan narkoba tidak
ada hubungan langsung, tetapi perilaku pecandu narkoba membuka peluang
tertularnya HIV, oleh karena itu dua hal yang berbeda itu jangan sekali-kali
diberi kesempatan untuk berinteraksi, caranya hindari nankoba dan hidup sehat,
berhati-hati dan bertanggung jawab. Dan hal lain yang tidak kalah penting
adalah sebaiknya menyebankan informasi yang tepat mengenai HIV/AIDS, berita
HIV/AIDS serta bahaya narkoba perlu dilkuti terus karena informasi bisa berubahsangat cepat. Kita janganlah
mengucilkan atau menjauhkan pendenita HIV/AIDS.
g.
Pencegahan
dan Pengobatan
v
Pencegahan
Berikut
beberapa cara pencegahan yang bisa di lakukan guna meninimalisir penularan hiv
aids diantaranya:
Ø Menghindari
hubungan sexsual diluar nikah dan berhubungan dengan satu pasangan saja.
Ø Menggunakan
kondom terutama bagi kelompok perilaku resiko tinggi.
Ø Orang
yang diperiksa dan ternyata positif terkena panyakit HIV khususnya para wanita
diharapkan jangan hamil karena virus akan berpindah kejaninya.
Ø Dianjurkan
tidak untuk mendonorkan darah bagi penderita AIDS agar tidak menular.
Ø
Bagi pengguna jarung suntik atau
akupuntur, tato, tindik harus dalam keadaan steril.
v Pengobatan
Pengobatan
yang di berikan pada penderita perupa layanan kesehatanguna memperlambat
perkembangan virus hiv dalam tubuh penderita, dimana banyak asumsi dalam
pemberian suplemen multivitamin dan
mineral bisa mengurangi perkembangan penyakit HIV.
Antiretroviral (ARV) adalah satu-satunya obat bagi Human
Immunodeficiency Virus (HIV), bermanfaat untuk mencegah pengembangbiakan
sekaligus menurunkan jumlah virus. ARV ditemukan pada tahun 1996 di
Brasil, sedang pada tahun 2000 India dan Thailand mampu memproduksi ARV
generik, Mulai tahun 2001 ARV generik mulai masuk ke Indonesia yang diimport
oieh PT Indofarma.
Karena jumlah
dan pendistribusian Antmretrovmnol generik di Indonesia belum mampu menjarigkau
secara merata ke penderita HIV yang tersebar begitu luas, maka sering seorang
penderita HIV kesulitan untuk memperoleh obat tersebut, bahkan sering penderita
memperolehnya pada saat obat tersebut sudah kadaluwarsa sehingga mengakibatkan
masalah yang cukup fatal.
Adapun tujuan pemberian obat-obatan
pada penderita AIDS adalah untuk membantu memperbaiki daya tahan tubuh,
meningkatkan kualitas hidup bagi meraka yang diketahui terserang virus HIV
dalam upaya mengurangi angka kelahiran dan kematian. Kita semua diharapkan
untuk tidak mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan
bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban.
h. Perilaku sosial penderita HIV/AIDS
dalam menghadapi reaksi masyarakat
HIV/AIDS bukanlah sekedar masalah lokal tapi telah
mewabah ke seluruh Indonesia. Sekalipun belum ditemukan data yang lebih valid
dan reliabel namun dipastikan virus ini sudah mengarah menjadi masalah sosial.
Persoalannya masih relatif kecil studi tentang HIV/AIDS dari kajian Ilmu
Sosial.
Penelitian
ini menggambarkan suatu fenomena sosial yang bersifat khusus mengenai perilaku
sosial penderita HIV/AIDS sebagai diskriminan dalam menghadapi reaksi
masyarakat. Dimana penderita terus menerus melakukan proses adaptasi sosial.
Penelitian menunjuk pada kasus langka melibatkan 8 orang informan penderita HIV
yang tersebar di berbagai penjuru Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi, serta
16 orang informan berasal dari masyarakat yang ada diseputar penderita.
Pendekatan kualitatif menjadi pilihan dalam melakukan penelitian, karena pendekatan
ini bisa menjelaskan fakta-fakta dalam menunjukkan makna sosiologis yang
sebenarnya.
Penelitian ini berpijak dari
kerangka Kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan
orientasi nilai budaya. Keberagaman makna penderita dalam menghayati dunia
sakitnya akan:
(1) waktu,
(2) Tuhan,
(3)
lingkungan sosial,
(4)
pekerjaan, dan
(5) masa
depan.
Hasil
penelitian menemukan bahwa perilaku sosial penderita menunjukkan perilaku yang
berubah-ubah dan sangat situasional, mengalami kesulitan melaksanakan adaptasi
sosial terhadap lingkungannya.
·
Faktor penyebab Ketidakmampuan penderita hiv aids melaksanakan
penyesuaian sosial terhadap lingkungan berpijak pada dua aspek yaitu:
a) perilaku
situasional yang dilakukannya menyebabkan yang bersangkutan tidak berkemampuan
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan
b) ketidakmampuan
masyarakat untuk melakukan penyesuaian sosial terhadap penderita.
Temuan lain dalam penelitian ini, terjadi perubahan
perilaku yang demikian cepat oleh para penderita. Perilaku yang ditampilkan
tergantung pada kemampuannya untuk menafsirkan stimuli yang berasal dari
lingkungannya. Jika lingkungan memberikan dukungan, maka yang terjadi adalah
penampilan perilaku secara konstruktif dan optimistik. Sebaliknya, jika menurut
penafsirannya, ternyata lingkungan menolak, maka ia akan menampilkan dirinya
sebagai orang yang menarik diri, mengasingkan diri dan bahkan disertai dengan
sikap menutup diri terhadap lingkungan sosialnya.
Gejala sosial yang muncul pada dirinya
adalahterbentuknya sikap kurang percaya diri, stereotipe negatif terhadap
lingkungan sosial, fatalistik, pesimistik, serta keputusasaan sehingga fungsi
sosialnya terganggu. Pada akhirnya akan makin melemahkan daya tahan tubuhnya.
Sebelum yang bersangkutan dinyatakan terkena HIV,
akan menampilkan sikap maupun perilaku sebagaimana bentuk perilaku sosial
lainnya. Namun, ketika dinyatakan sebagai penderita HIV/AIDS, maka terjadi
beberapa kecenderungan perilaku situasional terutama dalam menyikapi dirinya
terhadap waktu, Tuhan, lingkungan sosial, pekerjaan, dan masa depannya.
·
Faktor yang mempengaruhi perilaku sosial
penderitaantara lain :
1.
reaksi masyarakat terhadap dirinya,
2.
proses pembelajaran diri terhadap
lingkungan sosial,
3.
pengalaman traumatik yang menyebabkan
terbentuknya penghayatan sesuai dengan sikap prasangkanya.
Reaksi penyangkalan begitu keras diberikan penderita
untuk mengembalikan keberadaan dirinya didalam masyarakat. Penyangkalan ini
merupakan upaya menjadikan dirinya ada dalam masyarakat. Sementara proses
penyesuaian diri terhambat karena perilaku situasional yang terus-menerus
dilakukan penderita, ditunjang ketidakmampuan masyarakat dalam melakukan
penyesuaian sosial terhadap penderita HIV/AIDS. Hal ini berarti bahwa begitu
besar pengaruh reaksi sosial pada perilaku sosial penderita. Perilaku yang
sebenarnya akan muncul ketika penderita mampu mengendalikan realitas sosial
secara sadar yang dihayatinya sebagai kehidupan sosial yang dianggap wajar dan
normatif.
Ø
Dampak Penyakit HIV/AIDS
- Dampak
Demografi
Salah satu efek jangka panjang endemi HIV dan
AIDS yang telah meluas seperti yang telah terjadi di
Negara Negara adalah dampaknya pada indikator demografi. Karena tingginya
proporsi kelompok umur yang lebih muda terkena penyakit yang membahayakan ini,
dapat diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup. Hal ini
menjadi masalah yang penting karena hilangnya individu yang terlatih dalam
jumlah besar tidak akan mudah dapat digantikan. Pada tingkat makro, biaya yang
berhubungan dengan kehilangan seperti itu, seumpama meningkatnya pekerja yang
tidak hadir, meningkatnya biaya pelatihan, pendapatan yang berkurang, dan
sumber daya yang seharusnya dipakai untuk aktivitas produktif terpaksa
dialihkan pada perawatan kesehatan, waktu yang terbuang untuk merawat anggota
keluarga yang sakit, dan lainnya,juga akan meningkat.
- Dampak Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan
Tingginya tingkat penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok manapun
berarti bahwa semakin banyak orang menjadi sakit, dan membutuhkan jasa
pelayanan kesehatan. Perkembangan penyakit yang lamban dari infeksi HIV berarti
bahwa pasien sedikit demi sedikit menjadi lebih sakit dalam jangka aktu
yang panjang, membutuhkan semakin banyak perawatan kesehatan. Biaya langsung
dari perawatan kesehatan tersebut semakin lama akan menjadi semakin besar.
Meningkatnya jumlah penderita AIDS berarti meningkatnya kebutuhan ARV. Rusaknya
sistem kekebalan tubuh telah memperparah masalah kesehatan masyarakat yang
sebelumnya telah ada yaitu tuberkulosis. Banyak penelitian yang menunjukkan
bahwa kejadian TB telah meningkat secara nyata di antara kasus HIV. TB masih
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia
dimana setiap tahunnya ditemukan lebih dari 300.000 kasus baru, maka perawatan
untuk kedua jenis penyakit ini harus dilakukan secara bersamaan.
- Dampak
Terhadap Ekonomi Nasional
Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka
yang berada pada umur produktif utama (94% pada kelompok usia 19 sampai 49
tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar pada angkatan kerja. Mengingat bahwa HIV
lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka yang berada pada umur produktif
utama (94% pada kelompok usia 19 sampai 49 tahun), epidemi HIV dan AIDS
memiliki dampak yang besar pada angkatan kerja. Meskipun kemiskinan
adalah faktor yang paling jelas dalam menimbulkan keadaan resiko tinggi dan
memaksa banyak orang ke dalam perilaku yang beresiko tinggi, kebalikannya dapat
pula berlaku – pendapatan yang berlebih, terutama di luar pengetahuan keluarga
dan komunitas – dapat pula menimbulkan resiko yang sama. Pendapatan yang
besar (umumnya tersedia bagi pekerja terampil pada pekerjaan yang profesional)
membuka kesempatan bagi individu untuk melakukan perilaku resiko tinggi yang
sama: berpergian jauh dari rumah, pasangan sex yang banyak, berhubungan dengan
PS, obat terlarang, minuman keras, dan lainnya.
- Dampak Terhadap Tatanan Sosial
Adanya stigma dan diskriminasi akan berdampak pada tatanan sosial
masyarakat. Penderita HIV dan AIDS dapat kehilangan kasih sayang dan kehangatan
pergaulan sosial. Sebagian akan kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan
yang pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial. Sebagaian mengalami keretakan
rumah tangga sampai perceraian. Jumlah anak yatim dan piatu akan bertambah yang
akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh sebab itu keterbukaan dan hilangnya
stiga dan diskriminasi sangat perlu mendapat perhatian dimasa mendatang.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Narkobaatau NAPZA adalah bahan / zat
yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang ( pikiran,
perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi.NAPZA
merupakan kepanjangan dari : Narkotika,
Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya
Masalah penyalahguanaan NARKOBA / NAPZA khususnya pada
remaja adalah ancaman yang sangat mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu
bangsa pada umumnya.Pengaruh NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan
pribadinya, maupun dampak sosial yang ditimbulkannya.
Begitu pula dengan hiv aids meskipun kita tau belum adanya
obat untuk menyembuhkan penyakit ini, serta proses penularanya yang mudah dan
yang tersulit untuk menditeksi dalam mengenali gejala aids karena membutuhkan
waktu inkubasi yang lama sampai 5-10 tahun,karna itu kita harus senantiasa
waspada guna menghindari terjanngkitnya penyakit aids yang mematikan ini serta
ikut serta dalam pencegahan penyebaranya yang semakin meluas dengan cara
menghindari melakukan sex bebas, pengunaan jarum suntikyang tidak steril, serta
tidak mengunakan barang barang pribadi yang telah terjangkit virus hiv +.
Masalah pencegahan penyalahgunaan NAPZA maupun penyebaran
virus HIV AIDS bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja, melainkan
menjadi tugas kita bersama.Upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA maupaun HIV
AIDS yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang
cukup tentang penanggulangan tersebut.
Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di
sekolah maupun masyarakat sangatlah
besar bagi pencegahan penaggulangan terhadap NAPZA dan virus HIV AIDS.
DAFTAR
PUSTAKA
http://tuanpitri.com/kimia/jenis-jenis-napza-dan-penyalahgunaannya-dalam-kehidupan-sehari-harihttp://tuanpitri.com/kimia/jenis-jenis-napza-dan-penyalahgunaannya-dalam-kehidupan-sehari-hari
Disusun oleh siswoyo,
kesehatan dan olah raga asmani, smk texmaco pemalang2010
Artikel yang baik harus memperhatikan penulisan yang baik juga. Perbaiki kesalahan penulisan seperti spasi, font,juga penggunaan tipe font yang harus sama.
BalasHapusterimagajih
oke wok, terima gajih atas masukannya..
Hapuskesehatan mental, presentasi minggu ke 2
BalasHapusihh bagus bgt,,,:)
BalasHapusjosss
BalasHapusmanteppppppppppppp
BalasHapusbenerrr
BalasHapuspertamax gan...
BalasHapusTerima Gajih semuanya.. hhaaa
BalasHapus