Pages

Kamis, 09 Mei 2013


MAKALAH ESEHATAN MENTAL
“NAPZA DAN HIV AID’S”
                           Dosen Pengampu: sri Adi Nyrhayati, MM






DI SUSUN OLEH:
1.      Andri Aditia
2.      Dian Nafitasari
3.      Ika Apri Lestari
4.      Imam Mustaghfiri Nur
5.      Nurul Fitriani
6.      Ruskanto
7.      Dwi Asih Anggraeni
8.      Salamah
9.      Widias Wijayanti A.B
PROGDI:  III/A
BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2012


KATA PENGANTAR
Assalammualaikum wr.wb
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat hidayah dan inayahNya penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah kesehatan mental.
Makalah ini disusun dengan memiliki beberapa tujuan diantaranya :
1.      Melengkapi nilai tugas mata kuliah kesehatan mental
2.      Mencoba memahami lebih mendalam mengenai napza dan hiv aids
Dalam penyusunan laporan ini penyusun tidak lupa mengucapkan banyak terimakasi pada keluarga kami serta teman-teman yang selalu mendukung sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan dengan tepat waktu, penyusun juga tidak lupa meminta maaf dimana penyusun menyadari banyaknya kekurangan yang ada,hal ini tidak lain karena keterbatasan pngetahuan yang dimiliki oleh penyusun.
Berkaitan dengan hal tersebut maka penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Atas perhatian,kritik serta saran dari para pembaca, penyusun ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum wr.wb

Tegal, september 2012
                        penyusun







BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA.
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda.
Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun. Tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA. Oleh karena itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda. Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA
HIV AIDS
Pecandu narkoba adalah orang yang senantiasa memiliki dorongan untuk menggunakan obat/narkoba yang dicandui dan hal itu menjadi prioritas utama dalam kehidupannya. Dalam pengertian sehari-hari sering timbul pertanyaan: Apakah ada hubungan antara HIV/AIDS dan pecandu narkoba? Maka dalam kesempatan ini, kami akan sedikit menelusuri pengertian HIV/AIDS dan pecandu narkoba agar kita dapat terhindar dan virus dan penyakit yang diramalkan akan mewabah di Indonesia, sedang peredaran narkoba yang semakin sulit untuk dibendung, semoga anak cucu kita terhindar dan hal-hal yang tidak kita inginkan.
Kita semua menyadari bahwa HIV/AIDS dan narkoba adalah sangat mencemaskan kita, oleh karena itu perlu informasi yang benar serta kita tidak boleh takut yang berlebihan sehingga kita telah capai serta karya Tuhan akan lebih nyata pada ariak cucu kita.
Aids pertama kali di diagnosa di As pada tahun 1981 dan sampai saat ini sudah menyerang sebagian besar negara didunia, sehingga telah menjadi masalah international karena dalam waktu realtif singkat/ cepat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara di dunia baik negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia.
HIV singkatan dan Human Immunodeeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel-sel darah putih manusia sehingga jumlah sel darah putih manusia berkurang, dan lama-kelamaan system kekebalan tubuh manusia melemah. Sedangkan AIDS adalah singkatan dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome yang berarti kumpulan gejala penyakit atau sindroma kareria menurunnya kekebalan tubuh sehingga beberapa penyakit mudah datang menyerang, dan menyebabkan kerusakan yang parah dan sejauh ini belum diketahui obatnya.
Upaya pencegahan penularan AIDS melalui hubungan seksual memerlukan pendidikan dan penyuluhan intensif dan ditunjukan untuk mengubah perilaku seksual masyarakat tertentu sedemikian rupa sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV. Untuk menunjang keberhasilan upaya pencegahan tersebut terutam pada ank remaja atau SLTA, maka sebaiknya informasi yang benar mengenai AIDS diberikan kepada mereka. Depkes telah dianggap dalam hal ini dengan memberikan informasi yang benar mengenai AIDS, baik melaui media cetak maupun media lainnya masyarakat umum. Sedangkan untuk menanggulangi AIDS dari unsur host, Agen, dan Enfirenment, pemutusan transmisi tidak bisa dilakukan pada host karena belum danya vaksin dan juga pada agen belum ada obat penangkalnya. Satu – satunya jalan adalah dengan mengubah environtment , yaitu dengan mengubah perilaku seksual.

B.     Rumusan Masalah
Ø  NAPZA
1.      Pengertian  napza
2.      Macam mancam napza
3.      Alasan penyalahgunaan napza
4.      Efek atau dampak dari penggunaan napza.
5.      Upaya pencegahan penyalahgunaan napza
Ø  HIV AIDS
1.      Pengertian HIV / AIDS.
2.      Proses terjangkitnya virus hiv aids.
3.      Tanda dan gejala HIV / AIDS.
4.      Cara penularan penyakit HIV / AIDS kaitanya dengan napza
5.      Pencegahan dan pengobatan penyakit HIV/ AIDS.
6.      Dampak  penyakit HIV / AIDS

C. Manfaat Penelitian
Diharapkan setelah menbaca makalah ini para pembaca mengerti dan memahami tentang pengertian, penyebab, penularan, pencegahan serta penanganan NAPZA dan HIV/AIDS.
Dan mampu dalam bersosialisasi denagn penderita guna memberi dukungan bagi kelangsungan hidup penderita agar tidak merasa di kucilkan bahkan tidak di anggap dalam masyarakat.dan mampu hidup normal tanpa memikirkan beban sosial yang tinggi.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Narkoba
Sebelum Masehi orang-orang Mesopotamia telah membudidayakan tanaman poppy yang berkhasiat mengurangi rasa nyeri dan memberi efek nyaman zat ini dalam bahasa Yunani disebut opium atau candu, kemudian menyebar ke India, Cina dan ke Asia lainnya termasuk Indonesia.
Pada tahun 1803 seorang apoteker Jerman bernama Friednich Wilhelm Sentuner berhasil mengisolasi bahan aktif opium yang memberi efek narkotika dan diberi nama Morfm yang berasal bahasa Latin Morpheus yang berarti dewa mimpi Yunani. Selain morfin dan heroin, ada jenis narkoba lain yaitu kokain (Erythroxylor coca) berasal dan tumbuhan coca yang tumbuh di Peru dan Bolivia.
Sejak tahun 2005, Indonesia sudah termasuk ke dalam tiga besar peredaran narkoba dunia, terutama jenis shabu-shabu (crystal, methamphetammne) setelah Cina dan Amerika Seikat. Narkoba dibuat berbagai bentuk berupa pil,cairan, bubuk, permen berwarna-warni dan punya aneka rasa, salah satu permen narkoba bernama yaba yang rasanya manis dan warnanya menarik.Permen berisi narkoba bisa dimakan akan menimbulkan pusing dan sempoyongan, dan dapat kecanduan. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam membeli jajanan, dan waspada terhadap orang yang menawari permen atau makanan gratis, agar kita berani menolaknya.
a.      Pengertian napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif)
Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang ( pikiran, perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya.
b.      Macam macam napza

1.      Narkotika
Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang mengandung candu sehingga dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dalam berperilaku serta menimbulkan rasa ngantuk yang mendalam, serta menimbulkan halusinasi pada pengguna hingga  dapat menimbulkan efek ketergantungaan.
Contoh ; Heroin, Kokain, Ganja, Morfin, Petidin,codein.
v  Narkotika terdiri dari 3 golongan :
1.      heroin, kokain, dan ganja
Merupakan jenis Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
2.      Morfin dan Petidin
Merupakan Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan  atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
3.      Codein
Merupakan jenis Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
2.      psikotropika :
Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.Psikotropika meliputi : ekstasi, amphetamine, phenobarbital, diazepam, nitrazepam

v  Psikotropika terdiri dari 4 golongan:
1.      Ekstasi
Golongan I Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
2.      Amphetamine.
Golongan II Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
3.      Phenobarbita
Golongan III Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.
4.      diazepam, nitrazepam
Golongan IV  Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.
3.      Zat adiktif
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
·         Minuman alkohol
·         Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik, yang sering disalah gunakan adalah ; lem, tiner, penghapus cat kuku, bensin.
·         Tembakau : tembakau yang mengandung nikotin

Ø  Berdasarkan  bahan pembentuknya zat adiktif  meliputi:

1. Alam

diambil dari tanaman seperti ganja, opium, kokaina, jamur, kaktus, tembakau, kopi, pinang, sirih, dll.

2. Sintetis

terbuat dari bahan kimia atau farmasi dicampur dengan bahan-bahan alami seperti: amphetamin, kodein, lem, dll.

Ø  Didasarkan  pada cara kerja zat adiktif  meliputi tiga efek tahapan pada tubuh


1. Tahap awal ( menambah semangat/gairah )

Tahap awal, zat ini mampu  mendorong kinerja jantung, memompa paru-paru dengan lebih layak dan memungkinkan merangsang  berbagai hormon di otak yang menyebabkan rasa segar dan bersemangat.

2. Tahap kedua ( menperlambat fungsi organ tubuh )

Pada tahap ini mampu memperlambat detak jantung, denyut nadi, paru-paru dan mengurangi kinerja yang memperlambat rangsangan di otak yang menyebabkan rasa ngantuk  atau rasa tidur yang mendalam.

3. Tahap ketiga ( mengacaukan sistem syaraf otak )

Tahap ini mulai mampu mempengaruhi sistem saraf pusat, otak dan tulang belakang sehingga mereka dapat menyebabkan halusinasi, melihat dan merasakan realitas palsu.

Ø  Tentang  cara menggunakan

ü   Taruh dalam mulut (oral)
ü  Disuntikan ke tubuh (Injection)
ü  Ditempatkan di luka
ü  Ini (mengendus) / hirup (dihirup)
ü   Dimasukkan melalui anus (anal penyisipan)

Ø  Berdasarkan  bentuk

ü Pengenceran
ü  Pasta
ü Pil / kapsul
ü Crystal / blok
ü Powder
ü Gas
ü Lapisan kertas (kertas diresapi)

Ø  Tingkat Pemakaian Zat Adiktif.

a.       Pemakaian coba-coba (experimental use), yang bertujuan hanya ingin mencoba memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti menggunakannya dan sebagian lain meneruskan.
b.      Pemakaian sosial (social use)yang bertujuan hanya untuk bersenang-senang (saat rekreasi atau santai). Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap ini,namun sebagai lagi meningkat ke tahapan selanjutanya.
c.       Pemakaian situasional (situasional use) pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu (ketegangan,kesedihan,kecewaan) dengan maksud menghilangkan perasaan.
d.      Penyalahgunaan (abuse), pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang bersifat patologik atau klinis (menyimpang), minimal satu bulan lamanya, dan telah terjadi gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaannya.
e.       Ketergantungan (defendence), telah terjadi toleransi dan gejala putus zat, bila pemakaian zat dihentikan atau dikurangi atau tidak ditambah dosisnya.

Ø  Pola pemakaian coba-coba (eksperimental)
Pemakaian coba-coba ini dilakukan oleh seseorang yang sebelumnya belum pernah mengkonsumsi narkoba. Biasanya hal ini terjadi pada remaja, yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Tentunya, ketika pertama kali mencoba tidak langsung dengan dosis yang tinggi, alias dengan dosis kecil.  Namun, jika hal ini dibiarkan, maka akan sangat berbahaya, karena bisa berefek pada ketergantungan.
Ø  Pemakaian sosial
Pemakaian narkoba untuk pergaulan (saat berkumpul atau pada acara terrtentu). Biasanya hal ini terjadi karena ingin diakui/diterima oleh kelompoknya. Mula-mula narkoba diperoleh secara gratis atau dibeli dengan harga murah. Namun, lama-lama jika si penderita sudah mulai ketergantungan, tentunya harga akan naik berlipat-lipat.
Ø   Pemakaian situasional
Pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan, kesedihan, kekecewaan, dan sebagainya, dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.
Ø   Ketergantungan
Ini adalah tingkatan yang sangat berbahaya. Si pemakai akan selalu berupaya memperoleh narkoba dengan cara apapun tidak peduli cara yang digunkannya itu baik atau buruk. Berbohong, menipu, mencuri, dan tindakan kriminal lainnya bisa saja ia lakukan, asal ia bisa mendapatkan obat terlarang itu. Pengguna sudah tidak dapat lagi mengontrol penggunaan narkoba. Narkoba telah menjadi pusat kehidupannya. Hubungan dengan keluarga, teman-temannya menjadi rusak berantakan.
v  Zat adiktif, berakibat antara lain :
·          Gangguan fisik : gangguan dan kerusakan pada hati, jantung, pankreas, lambung dan otot. 
·         Gangguan jiwa : gangguan otak/daya ingatan, kemampuan belajar menurun, mudah tersinggung, mengasingkan dari lingkungan dsb. 
·         Gangguan Kamtibmas : akibat minuman keras akan menekan pusat pengendalian seseorang, sehingga yang bersangkutan menjadi berani dan agresif, yang kemudian diekspresikan dengan cara-cara yang melanggar norma-norma, bahkan tidak sedikit yang melakukan tindakan kriminal

4.      Penyebab penyalahgunaan napza

1.      Faktor individual :
Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri – ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan NAPZA :
a.       Cenderung memberontak, Putus sekolah
b.       Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.
c.       Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada, Kurang menghayati iman dan kepercayaan
d.      Kurang percaya diri, Murung, pemalu, pendiam
e.       Mudah kecewa, agresif dan destruktif
f.       Merasa bosan dan jenuh
g.      Keinginan untuk bersenang – senang yang berlebihan
h.      Kemampuan komunikasi yang rendah

2.      Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.
ü  Lingkungan Keluarga :
a.       Hubungan kurang harmonis, Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
b.      Orang tua terlampau sibuk, Orang tua yang bercerai, Orang tua otoriter
c.       Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
d.      Kurangnya kehidupan beragama.
ü  Lingkungan Sekolah :
a.       Sekolah yang kurang disiplin
b.      Sekolah terletak dekat tempat hiburan
c.       Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif
d.      Adanya murid pengguna NAPZA.
ü  Lingkungan Teman Sebaya :
a.       Berteman dengan penyalahguna pengguna NAPZA.
b.      Tekanan atau ancaman dari teman.
ü  Lingkungan Masyrakat / Sosial :
a.      Lemahnya penegak hukum
b.      Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.
Faktor – faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor – faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA.
5.      JENIS NAPZA YANG DISALAHGUNAKAN
 Jenis NAPZA / NARKOBA sering disalahgunakan didalam lingkungan masyarat yang meliputi
Ø  Opiada, terdapat 3 golonagan besar :
a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan.Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw, yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan oleh dokter sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi, penderita cancer.Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri, mereka merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh.
1.  Morfin
Merupakan zat aktif (narkotika) yang diperoleh dari candu melalui pengolahan secara kimia. Umumnya candu mengandung 10% morfin. Cara pemakaiannya disuntik di bawah kulit, ke dalam otot atau pembuluh darah (intravena)
  • Menimbulkan euforia.
  • Mual, muntah, sulit buang hajat besar (konstipasi).
  • Kebingungan (konfusi).
  • Berkeringat.
  • Dapat menyebabkan pingsan, jantung berdebar-debar.
  • Gelisah dan perubahan suasana hati.
  • Mulut kering dan warna muka berubah.
2. Heroin atau putaw
Merupakan golongan narkotika semisintetis yang dihasilkan atas pengolahan morfin secara kimiawi melalui 4 tahapan sehingga diperoleh heroin paling murni berkadar 80% hingga 99%. Heroin murni berbentuk bubuk putih sedangkan heroin tidak murni berwarna putih keabuan (street heroin). Zat ini sangat mudah menembus otak sehingga bereaksi lebih kuat dari pada morfin itu sendiri. Umumnya digunakan dengan cara disuntik atau dihisap.
Timbul rasa kesibukan yang sangat cepat/rushing sensastion (± 30-60 detik) diikuti rasa menyenangkan seperti mimpi yang penuh kedamaian dan kepuasan atau ketenangan hati (euforia). Ingin selalu menyendiri untuk menikmatinya.
  • Denyut nadi melambat.
  • Tekanan darah menurun.
  • Otot-otot menjadi lemas/relaks.
  • Diafragma mata (pupil) mengecil (pin point).
  • Mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan diri.
  • Membentuk dunia sendiri (dissosial) : tidak bersahabat.
  • Penyimpangan perilaku : berbohong, menipu, mencuri, kriminal.
  • Ketergantungan dapat terjadi dalam beberapa hari.
  • Efek samping timbul kesulitan dorongan seksual, kesulitan membuang hajat besar, jantung berdebar-debar, kemerahan dan gatal di sekitar hidung, timbul gangguan kebiasaan tidur.
Jika sudah toleransi, semakin mudah depresi dan marah sedangkan efek euforia semakin ringan atau singkat
3. Kokain
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut
Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
Mempunyai 2 bentuk yakni bentuk asam (kokain hidroklorida) dan bentuk basa (free base). Kokain asam berupa kristal putih, rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dibanding bentuk basa bebas yang tidak berbau dan rasanya pahit. Nama jalanan kadang disebut koka, coke, happy dust, snow, charlie, srepet, salju, putih. Disalahgunakan dengan cara menghirup yaitu membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus di atas permukaan kaca dan benda yang mempunyai permukaan datar. Kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot atau gulungan kertas. Cara lain adalah dibakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Menghirup kokain berisiko luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.
  • Menimbulkan keriangan, kegembiraan yang berlebihan (ecstasy).
  • Hasutan (agitasi), kegelisahan, kewaspadaan dan dorongan seks.
  • Penggunaan jangka panjang mengurangi berat badan.
  • Timbul masalah kulit.
  • Kejang-kejang, kesulitan bernafas.
  • Sering mengeluarkan dahak atau lendir.
  • Merokok kokain merusak paru (emfisema).
  • Memperlambat pencernaan dan menutupi selera makan.
  • Paranoid.
  • Merasa seperti ada kutu yang merambat di atas kulit (cocaine bugs).
  • Gangguan penglihatan (snow light).
  • Kebingungan (konfusi).
  • Bicara seperti menelan (slurred speech).
4. Kanabis
Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok.Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebihan ( euphoria ), sering berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering pada mulut dan tenggorokan.
Berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica. Pada tanaman ini terkandung 3 zat utama yaitu tetrahidrokanabinol, kanabinol dan kanabidiol. Cara penggunaannya dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok.
  • Denyut jantung atau nadi lebih cepat.
  • Mulut dan tenggorokan kering.
  • Merasa lebih santai, banyak bicara dan bergembira.
  • Sulit mengingat sesuatu kejadian.
  • Kesulitan kinerja yang membutuhkan konsentrasi, reaksi yang cepat dan koordinasi.
  • Kadang-kadang menjadi agresif bahkan kekerasan.
  • Bilamana pemakaian dihentikan dapat diikuti dengan sakit kepala, mual yang berkepanjangan, rasa letih/capek.
  • Gangguan kebiasaan tidur.
  • Sensitif dan gelisah.
  • Berkeringat.
  • Berfantasi.
  • Selera makan bertambah.
5. Amphetamine
Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet.
Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air.
Nama generik/turunan amfetamin adalah D-pseudo epinefrin yang pertama kali disintesis pada tahun 1887 dan dipasarkan tahun 1932 sebagai pengurang sumbatan hidung (dekongestan). Berupa bubuk warna putih dan keabu-abuan. Ada 2 jenis amfetamin yaitu MDMA (metil dioksi metamfetamin) dikenal dengan nama ectacy. Nama lain fantacy pils, inex. Metamfetamin bekerja lebih lama dibanding MDMA (dapat mencapai 12 jam) dan efek halusinasinya lebih kuat. Nama lainnya shabu, SS, ice. Cara penggunaan dalam bentuk pil diminum. Dalam bentuk kristal dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap melalui hidung, atau dibakar dengan memakai botol kaca yang dirancang khusus (bong). Dalam bentuk kristal yang dilarutkan dapat juga melalui suntikan ke dalam pembuluh darah (intravena).
  • Jantung terasa sangat berdebar-debar (heart thumps).
  • Suhu badan naik/demam.
  • Tidak bisa tidur.
  • Merasa sangat bergembira (euforia).
  • Menimbulkan hasutan (agitasi).
  • Banyak bicara (talkativeness).
  • Menjadi lebih berani/agresif.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mulut kering dan merasa haus.
  • Berkeringat.
  • Tekanan darah meningkat.
  • Mual dan merasa sakit.
  • Sakit kepala, pusing, tremor/gemetar.
  • Timbul rasa letih, takut dan depresi dalam beberapa hari.
  • Gigi rapuh, gusi menyusut karena kekurangan kalsium.
6. LSD ( Lysergic Acid )
Termasuk dalam golongan halusinogen. Nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas. Bentuknya biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar dan juga berbentuk pil dan kapsul. Cara penggunaan : meletakan LSD pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30 – 60 menit kemudian, menghilang setelah 8 – 12 jam.Efek rasanya terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu sehingga timbul obsesi yang sangat indah dan bahkan menyeramkan dan lama – lama menjadikan penggunaanya paranoid.
  • Timbul rasa yang disebut Tripping yaitu seperti halusinasi tempat, warna dan waktu.
  • Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu hingga timbul obsesi terhadap yang dirasakan dan ingin hanyut di dalamnya.
  • Menjadi sangat indah atau bahkan menyeramkan dan lama kelamaan membuat perasaan khawatir yang berlebihan (paranoid).
  • Denyut jantung dan tekanan darah meningkat.
  • Diafragma mata melebar dan demam.
  • Disorientasi.
  • Depresi.
  • Pusing
  • Panik dan rasa takut berlebihan.
  • Flashback (mengingat masa lalu) selama beberapa minggu atau bulan kemudian.
  • Gangguan persepsi seperti merasa kurus atau kehilangan berat badan.
7. Sedatif – hipnotik ( benzodiazepin)
Termasuk golongan zat sedative ( obat penenang ) dan hipnotika ( obat tidur ).
Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus.Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang, stress, serta sebagai obat tidur.
8. Solvent / inhalasi
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya : Aerosol, Lem, Isi korek api gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap bensin.Biasanya digunakan dengan cara coba – coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang kurang mampu.Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala berputar, halusinasi ringan, mual, muntah gangguan fungsi paru, jantung dan hati.
  • Pada mulanya merasa sedikit terangsang.
  • Dapat menghilangkan pengendalian diri atau fungsi hambatan.
  • Bernafas menjadi lambat dan sulit.
  • Tidak mampu membuat keputusan.
  • Terlihat mabuk dan jalan sempoyongan.
  • Mual, batuk dan bersin-bersin.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Halusinasi.
  • Perilaku menjadi agresif/berani atau bahkan kekerasan.
  • Bisa terjadi henti jantung (cardiac arrest).
  • Pemakaian yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan syaraf otak menetap, keletihan otot, gangguan irama jantung, radang selaput mata, kerusakan hati dan ginjal dan gangguan pada darah dan sumsum tulang. Terjadi kemerahan yang menetap di sekitar hidung dan tenggorokan.
  • Dapat terjadi kecelakaan yang menyebabkan kematian di antaranya karena jatuh, kebakar, tenggelam yang umumnya akibat intoksikasi/keracunan dan sering sendirian. bat intoksikasi/keracunan dan sering sendirian.
9. Alkohol
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi – umbian yang mengahasilkan kadar alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 % yang akan menimbulkan efek euphoria, bahkan penurunan kesadaran.
Dikenal 3 golongan minuman berakohol yaitu
1.       golongan A; kadar etanol 1%-5% (bir),
2.       golongan B; kadar etanol 5%-20% (minuman anggur/wine) dan
3.      golongan C; kadar etanol 20%-45% (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput).
Pada umumnya alkohol :
  • Akan menghilangkan perasaan yang menghambat atau merintangi.
  • Merasa lebih tegar berhubungan secara sosial (tidak menemui masalah).
  • Merasa senang dan banyak tertawa.
  • Menimbulkan kebingungan.
  • Tidak mampu berjalan.
6.      Efek atau dampak dari penggunaan napza

Ø  Efek yang di timbulkan dari pengunaan napza
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3 golongan :
1.      Golongan Depresan ( Downer ). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri.
Contohnya: Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas ).
2.      Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat.
 Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
3.      Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu.
 Contoh: Kanabis ( ganja )

Ø  Dampak sosial  pengunaan napza  meliputi:

a.      Di Lingkungan Keluarga :
·         Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
·         Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
·         Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.
·         Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan..
b.      Di Lingkungan Sekolah :
·         Merusak disiplin dan motivasi belajar.
·         Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
·         Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya.
c.       Di Lingkungan Masyarakat :
·         Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan.
·         Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah.

7.      Upaya pencegahan penyalahgunaan napza:
Upaya pencegahan dalam penyalahgunaan pada napza meliputi 3 hal :
1.      Pencegahan primer :
Mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan intervensi. Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2.      Pencegahan Sekunder :
Mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.
3.      Pencegahan Tersier :
Merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.
Diharapkan dengan mengerti adanya upaya pencegahan mampu dalam mengurangi proses berkembangnya napza dalam lingkungan masyarakat,khususnya bagi para remaja yang belum paham betul mengenai bahaya napza dalam kelangsungan masa depanya.















B.     Sejarah HIV/AIDS
Pada tahun 1969 seorang remaja meninggal di St. Louis, AS; tahun 1976 seorang dokter asal Denmark meninggal sepulangnya dan Zaire dengan penyakit pneumocytis caranii; tahun 1979 dua orang pria meninggal di New York dan diagnosis sarkoma kaposi; pada tahun 1980-an pernah dilaporkan kasus-kasus serupa di Kopenhagen dan Amerika Serikat. Pads pertengahan 1980-an kasus-kasus AIDS pun meningkat dengan cepat dan menyebar ke seluruh dunia. Namun pada tahun 1950-an di Afrika pernah ditemukan sampel darah yang mengandung HIV.
 Pada pertengahan tahun 1981, Pusat Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control, CDC), di Amerika Serikat melaporkan adanya lima orang pria di Los Angeles yang semula sehat yang kemudian menderita sejenis radang paru yang jarang diperoleh, akibat parasit pneumocystis caranii yang biasanya tidak merugikan manusia.
Tidak lama kemudian dilaporkan 26 pria di New York den Los Angeles yang semula sehat kemudian menderita kanker kulit yang tidak lazim, yang kemudian kasus AIDS dilaporkan April 1987 di Bali, kasus kedua dilaporkan pada bulan November 1987 di Jakarta. Kedua petiderili tersebut warga negara asing dan meninggal di Indonesia. Pada bulan Juni 1988 dilaporkan kasus meningalnya seorang pria Indonesia karena kasus AIDS di Bali. Pada bulan April 1986 seorang wanita Indonesia meninggal di salah satu Rumah Sakit di Jakarta karena AIDS diduga terjadi melalui transfusi darah.
a.      Pengertian HIV / AIDS
HIV merupakan singkatan dari ’Human Immunodeficiency Virus’. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia, dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.
Apakah AIDS?
AIDS adalah singkatan dari ‘acquired immunodeficiency syndrome’ dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah ditafsirkan  sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

b.      Proses terjangkitnya virus  HIV / AIDS
Virus HIV tidak memiliki sifat seperti virus flu burung dapat menular mealui udara.Virus HIV terdapat di darah seseorang yang terinfeksi (termasuk darah haid), air susu ibu, air mani dan cairan vagina
 Proses penularan ini bisa melalui hubungan seksual dengan penderita ( homo maupun heteroseksual), tranfusi darah yang mengandung virus HIV, jarum suntik atau alat tusuk lainya yang baru saja dipakai oleh penderita atau dengan alat yanga mana alat ini telah melukai penderita kemudian dipakai orang lain yang hingga luka juga ( pisau cukur , sikat gigi, dll)
Virus ini dapat berkembang dengan cepat bila masuk melalui luka dan sel – sel tubuh manusia yang cocok, seperti sel darah putih type limposit T4 dan sel makrophag (sel pemakan kuman),Jika sel darah putih limposit T4 tersebut lemah dan mati, maka kekebalan tubuh akan menurun sehingga akan mempermudah kemingkinan terinfeksi penyakit lain atau timbulnya kelainan akibat kuman yang terinfeksi.
Proses dari mulai terinfeksinya tubuh oleh virus HIV sampai timbul AIDS memerlukan waktu 5-10 tahun. Pada anak umumnya lebih pendek dari orang dewasa 2 sampai 24 bulan.
ü  Proses penyebaran virus hiv dalam tubuh diantaranya sebagai berikut:
  • Pada saat berhubungan seks tanpa kondom, HIV dapat menular dari darah orang yang terinfeksi, air mani atau cairan vagina langsung ke aliran darah orang lain, atau melalui selaput mukosa yang berada di bagian dalam vagina, penis atau dubur.
  • HIV dapat menular melalui transfusi darah yang mengandung HIV atau melalui alat suntik atau alat tindakan medis lain yang tercemar.
  • HIV dapat disalurkan ke bayi saat kehamilan, kelahiran, dan menyusui. Bila tidak ada intervensi, kurang lebih sepertiga bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu dengan HIV akan tertular.
Setelah  terinfeksi HIV, individu akan melakukan perlawanan imun yang intensif. Sel-sel B menghasilkan antibodi-antibodi spesifik terhadap berbagai protein virus. Ditemukan antibodi netralisasi terhadap regio-regio di gp120 selubung virus dan bagian eksternal gp41.
c.       Tanda dan Gejala Penyakit HIV / AIDS
Gejala penderita AIDS dapat ringan sampai berat. Pembagian tingkat klinis penyakit infeksi HIV. Dibagi sebagai berikut:
1.      Tahap awal infeksi HIV,
gejalanya mirip influenza (demam, rasa lemah, lesu, sendi terasa nyeri, batuk, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar). Gejala ini biasanya hanya berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu saja, lalu hilang dengan sendirinya.
2.      Tahap tanpa gejala,
meskipun ia tidak menunjukkan gejala, tetapi pada tes darah ditemukan antibodi HIV dan disebut HIV+. Masa ini dapat berlangsung bertahun-tahun (5-7) tahun.
3.      Tahap ARC (AIDS Related Complex),
muncul gejala-gejala AIDS. ARC adalah istilah bila didapati dua atau lebih gejala yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih, yaitu demam disertai keringat malam, penurunan berat badan lebih dari 10%, kelemahan tubuh yang mengganggu aktivitas sehari-hari, pembesaran kelenjar secara lebih luas, diare (mencret) berkala atau terus-menerus dalam waktu lama tanpa sebab yang jelas, batuk dan sesak napas lebih dari satu bulan, kulit gatal dan bercak-bercak merah kebiruan, sakit tenggorokan dan pendarahan yang tak jelas sebabnya.
4.      Tahap AIDS,
muncul infeksi lain yang berbahaya (TBC, jamur, dan lain-lain) karena kekebalan tubuh telah demikian rusak, yang disebut infeksi oportunistik. Disamping itu, dapat terjadi kanker kulit dan kanker kelenjar getah bening.
5.      Tahap gangguan otak (susunan saraf pusat),
pada tahap ini dapat mengakibatkan kematian sel otak dan gangguan mental. Gangguan mental yang terjadi berupa demensia (gangguan daya ingat), penurunan kesadaran, gangguan psikotik, depresi, dan gangguan saraf lainnya.
d.      Cara Penularan HIV / AIDS

ü  Cara-cara penularan penykit HIV / AIDS yaitu:
1.    Hubungan Seksual
Pada hubungan seksual, baik antara laki-laki dengan perempuan atau pada hubungan                                                  homoseksual akan terjadi kerusakan jaringan kemaluan secara mikroskopis. Infeksi HIV akan masuk dan menular melalui mikrolesi dan menginfeksi drah wanita atau partner seksual dari penderita dengan HIV atau penyakit AIDS tersebu.
2.    Melalui Pembuluh Darah
Penularan dapat terjadi pada pemberian darah (transfusi darah) yang berasal dari penderita HIV / AIDS. Penularan juga dapat terjadi akibat pemakaian peralatan yang telah terkena darah atau serum darah dari tubuh penderita HIV / AIDS. Penularan dapat juga terjadi bila memakai peralatan kedokteran lain yang tidak dicuci dengan baik.
3.    Melalui Masa Prenatal
Penularan melalui ibu ke bayi dapat terjadi baik selama dalam kandungan melalui ari-ari, pada waktu persalinan maupun selama menyusui anak

Ø  Cairan yang tidak mengandung virus HIV  pada penderita HIV+ antara lain:
a.     Air liur/ air ludah/ saliva
b.    Feses
c.     Air mata
d.    Air keringat
e.     Air seni/ urine
Ø  Infeksi HIV TIDAK ditularkan melalui:
a.       Santai kontak seperti memeluk
b.      Gigitan nyamuk
c.       Partisipasi dalam olah raga
d.      Menyentuh item yang di sentuh oleh orang yang terinfeksi virus



e.       Perilaku Resiko Tinggi
Pada mulanya kaum gay, para pecandu narkotika, pekenja seks komersial, gigolo, waria, sopir-sopir truk, pelaut sering dikelompokkan perilaku resiko tinggi. Namun istilah tersebut bagi mereka tidak tepat karena selama mereka dapat berperilaku yang tidak menyebabkan ditulari HIV make tidak termasuk resiko tinggi. Sebaliknya meneka yang tidak termasuk kelompok tersebut di atas, misalnya remaja, siswa sekolah, pengusaha, bahkan ibu rumah tangga tidak otomatis bebas AIDS.
AIDS saat ini bisa memasuki kehidupan siapa saja, tanpa memandang umur, jenis kelamin, orientasi seksual, pekerjaan, atau gaya hidup. Yang membuat orang memiliki resiko tinggi adalah perilakunya. Apa yang dilakukannya itu yang menentukan resiko tinggi terhadap penularan HIV, tidak peduli kelompoknya.
Yang termasuk perilaku resiko tinggi adalah seringnya berganti-ganti pasangan seksual, selain itu penggunaan jarum suntik bekas orang lain yang membuka peluang orang terinfeksi HIV.
f.       Keterkaitan Penyalahgunaan Napza dengan HIV/AIDS
Walau tidak seluruh pengguna NAPZA, namun sebagian besar pengguna beberapa jenis NAPZA cenderung menggunakan Jarum Suntik sebagai media pemakaiannya. Penggunaan jarum suntik yang tidak seril dan dilakukan secara bergantian sangat rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS (tertular maupun menularkan).
Hal yang lebih mengerikan, Pengguna Napza yang merupakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) akan membuatnya lebih cepat memasuki fase AIDS. Hal ini dikarenakan karakteristik NAPZA yang bersifat menggerogoti organ tubuh. Termasuk juga perokok, karena rokok memiliki sifat yang sama.
Para pecandu narkoba dalam menggunakan jerum suntik yang telah dipakai orang lain, merupakan resiko paling tinggi untuk tertular HIV, karena terjadi pertukaran darah orang lain yang mungkin mengidap HIV. Narkoba yang berarti narkotika dan obat/bahan berbahaya menyebabkan pemakainya kehilangan penalaran tenteng akal sehat, sehingga pada saat melakukan hubungan seks para pemakai narkoba tidak terpikir untuk melakukan hubungan seks secara aman, sehingga peluang tertular HIV sangat besar.
Secara substansi HIV dan narkoba tidak ada hubungan langsung, tetapi perilaku pecandu narkoba membuka peluang tertularnya HIV, oleh karena itu dua hal yang berbeda itu jangan sekali-kali diberi kesempatan untuk berinteraksi, caranya hindari nankoba dan hidup sehat, berhati-hati dan bertanggung jawab. Dan hal lain yang tidak kalah penting adalah sebaiknya menyebankan informasi yang tepat mengenai HIV/AIDS, berita HIV/AIDS serta bahaya narkoba perlu dilkuti terus karena informasi bisa berubahsangat cepat. Kita janganlah mengucilkan atau menjauhkan pendenita HIV/AIDS.
g.      Pencegahan dan Pengobatan
v  Pencegahan
Berikut beberapa cara pencegahan yang bisa di lakukan guna meninimalisir penularan hiv aids diantaranya:
Ø  Menghindari hubungan sexsual diluar nikah dan berhubungan dengan satu pasangan saja.
Ø  Menggunakan kondom terutama bagi kelompok perilaku resiko tinggi.
Ø  Orang yang diperiksa dan ternyata positif terkena panyakit HIV khususnya para wanita diharapkan jangan hamil karena virus akan berpindah kejaninya.
Ø  Dianjurkan tidak untuk mendonorkan darah bagi penderita AIDS agar tidak menular.
Ø  Bagi pengguna jarung suntik atau akupuntur, tato, tindik harus dalam keadaan steril.
v  Pengobatan
Pengobatan yang di berikan pada penderita perupa layanan kesehatanguna memperlambat perkembangan virus hiv dalam tubuh penderita, dimana banyak asumsi dalam pemberian  suplemen multivitamin dan mineral bisa mengurangi perkembangan penyakit HIV.
Antiretroviral (ARV) adalah satu-satunya obat bagi Human Immunodeficiency Virus (HIV), bermanfaat untuk mencegah pengembangbiakan sekaligus menurunkan jumlah virus. ARV ditemukan pada tahun 1996 di Brasil, sedang pada tahun 2000 India dan Thailand mampu memproduksi ARV generik, Mulai tahun 2001 ARV generik mulai masuk ke Indonesia yang diimport oieh PT Indofarma.
Karena jumlah dan pendistribusian Antmretrovmnol generik di Indonesia belum mampu menjarigkau secara merata ke penderita HIV yang tersebar begitu luas, maka sering seorang penderita HIV kesulitan untuk memperoleh obat tersebut, bahkan sering penderita memperolehnya pada saat obat tersebut sudah kadaluwarsa sehingga mengakibatkan masalah yang cukup fatal.
Adapun tujuan pemberian obat-obatan pada penderita AIDS adalah untuk membantu memperbaiki daya tahan tubuh, meningkatkan kualitas hidup bagi meraka yang diketahui terserang virus HIV dalam upaya mengurangi angka kelahiran dan kematian. Kita semua diharapkan untuk tidak mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban.
h.      Perilaku sosial penderita HIV/AIDS dalam menghadapi reaksi masyarakat

HIV/AIDS bukanlah sekedar masalah lokal tapi telah mewabah ke seluruh Indonesia. Sekalipun belum ditemukan data yang lebih valid dan reliabel namun dipastikan virus ini sudah mengarah menjadi masalah sosial. Persoalannya masih relatif kecil studi tentang HIV/AIDS dari kajian Ilmu Sosial.
Penelitian ini menggambarkan suatu fenomena sosial yang bersifat khusus mengenai perilaku sosial penderita HIV/AIDS sebagai diskriminan dalam menghadapi reaksi masyarakat. Dimana penderita terus menerus melakukan proses adaptasi sosial. Penelitian menunjuk pada kasus langka melibatkan 8 orang informan penderita HIV yang tersebar di berbagai penjuru Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi, serta 16 orang informan berasal dari masyarakat yang ada diseputar penderita. Pendekatan kualitatif menjadi pilihan dalam melakukan penelitian, karena pendekatan ini bisa menjelaskan fakta-fakta dalam menunjukkan makna sosiologis yang sebenarnya.
            Penelitian ini berpijak dari kerangka Kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya. Keberagaman makna penderita dalam menghayati dunia sakitnya akan:
 (1) waktu,
            (2) Tuhan,
 (3) lingkungan sosial,
 (4) pekerjaan, dan
 (5) masa depan.

Hasil penelitian menemukan bahwa perilaku sosial penderita menunjukkan perilaku yang berubah-ubah dan sangat situasional, mengalami kesulitan melaksanakan adaptasi sosial terhadap lingkungannya.
·         Faktor penyebab  Ketidakmampuan penderita hiv aids melaksanakan penyesuaian sosial terhadap lingkungan berpijak pada dua aspek yaitu:
a)      perilaku situasional yang dilakukannya menyebabkan yang bersangkutan tidak berkemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan
b)      ketidakmampuan masyarakat untuk melakukan penyesuaian sosial terhadap penderita.
Temuan lain dalam penelitian ini, terjadi perubahan perilaku yang demikian cepat oleh para penderita. Perilaku yang ditampilkan tergantung pada kemampuannya untuk menafsirkan stimuli yang berasal dari lingkungannya. Jika lingkungan memberikan dukungan, maka yang terjadi adalah penampilan perilaku secara konstruktif dan optimistik. Sebaliknya, jika menurut penafsirannya, ternyata lingkungan menolak, maka ia akan menampilkan dirinya sebagai orang yang menarik diri, mengasingkan diri dan bahkan disertai dengan sikap menutup diri terhadap lingkungan sosialnya.
Gejala sosial yang muncul pada dirinya adalahterbentuknya sikap kurang percaya diri, stereotipe negatif terhadap lingkungan sosial, fatalistik, pesimistik, serta keputusasaan sehingga fungsi sosialnya terganggu. Pada akhirnya akan makin melemahkan daya tahan tubuhnya.
Sebelum yang bersangkutan dinyatakan terkena HIV, akan menampilkan sikap maupun perilaku sebagaimana bentuk perilaku sosial lainnya. Namun, ketika dinyatakan sebagai penderita HIV/AIDS, maka terjadi beberapa kecenderungan perilaku situasional terutama dalam menyikapi dirinya terhadap waktu, Tuhan, lingkungan sosial, pekerjaan, dan masa depannya.
·         Faktor yang mempengaruhi perilaku sosial penderitaantara lain :
1.       reaksi masyarakat terhadap dirinya,
2.       proses pembelajaran diri terhadap lingkungan sosial,
3.       pengalaman traumatik yang menyebabkan terbentuknya penghayatan sesuai dengan sikap prasangkanya.

Reaksi penyangkalan begitu keras diberikan penderita untuk mengembalikan keberadaan dirinya didalam masyarakat. Penyangkalan ini merupakan upaya menjadikan dirinya ada dalam masyarakat. Sementara proses penyesuaian diri terhambat karena perilaku situasional yang terus-menerus dilakukan penderita, ditunjang ketidakmampuan masyarakat dalam melakukan penyesuaian sosial terhadap penderita HIV/AIDS. Hal ini berarti bahwa begitu besar pengaruh reaksi sosial pada perilaku sosial penderita. Perilaku yang sebenarnya akan muncul ketika penderita mampu mengendalikan realitas sosial secara sadar yang dihayatinya sebagai kehidupan sosial yang dianggap wajar dan normatif.

Ø  Dampak Penyakit HIV/AIDS
  • Dampak Demografi
Salah satu efek jangka panjang endemi HIV dan AIDS yang telah meluas seperti yang telah terjadi di Negara Negara adalah dampaknya pada indikator demografi. Karena tingginya proporsi kelompok umur yang lebih muda terkena penyakit yang membahayakan ini, dapat diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup. Hal ini menjadi masalah yang penting karena hilangnya individu yang terlatih dalam jumlah besar tidak akan mudah dapat digantikan. Pada tingkat makro, biaya yang berhubungan dengan kehilangan seperti itu, seumpama meningkatnya pekerja yang tidak hadir, meningkatnya biaya pelatihan, pendapatan yang berkurang, dan sumber daya yang seharusnya dipakai untuk aktivitas produktif terpaksa dialihkan pada perawatan kesehatan, waktu yang terbuang untuk merawat anggota keluarga yang sakit, dan lainnya,juga akan meningkat.
  • Dampak Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan
Tingginya tingkat penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok manapun berarti bahwa semakin banyak orang menjadi sakit, dan membutuhkan jasa pelayanan kesehatan. Perkembangan penyakit yang lamban dari infeksi HIV berarti bahwa pasien sedikit demi sedikit menjadi lebih sakit dalam jangka  aktu yang panjang, membutuhkan semakin banyak perawatan kesehatan. Biaya langsung dari perawatan kesehatan tersebut semakin lama akan menjadi semakin besar. Meningkatnya jumlah penderita AIDS berarti meningkatnya kebutuhan ARV. Rusaknya sistem kekebalan tubuh telah memperparah masalah kesehatan masyarakat yang sebelumnya telah ada yaitu tuberkulosis. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kejadian TB telah meningkat secara nyata di antara kasus HIV. TB masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dimana setiap tahunnya ditemukan lebih dari 300.000 kasus baru, maka perawatan untuk kedua jenis penyakit ini harus dilakukan secara bersamaan.
  • Dampak Terhadap Ekonomi Nasional
Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka yang berada pada umur produktif utama (94% pada kelompok usia 19 sampai 49 tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar pada angkatan kerja. Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka yang berada pada umur produktif utama (94% pada kelompok usia 19 sampai 49 tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar pada angkatan kerja. Meskipun kemiskinan adalah faktor yang paling jelas dalam menimbulkan keadaan resiko tinggi dan memaksa banyak orang ke dalam perilaku yang beresiko tinggi, kebalikannya dapat pula berlaku – pendapatan yang berlebih, terutama di luar pengetahuan keluarga dan komunitas – dapat pula  menimbulkan resiko yang sama. Pendapatan yang besar (umumnya tersedia bagi pekerja terampil pada pekerjaan yang profesional) membuka kesempatan bagi individu untuk melakukan perilaku resiko tinggi yang sama: berpergian jauh dari rumah, pasangan sex yang banyak, berhubungan dengan PS, obat terlarang, minuman keras, dan lainnya.
  • Dampak Terhadap Tatanan Sosial
Adanya stigma dan diskriminasi akan berdampak pada tatanan sosial masyarakat. Penderita HIV dan AIDS dapat kehilangan kasih sayang dan kehangatan pergaulan sosial. Sebagian akan kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan yang pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial. Sebagaian mengalami keretakan rumah tangga sampai perceraian. Jumlah anak yatim dan piatu akan bertambah yang akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh sebab itu keterbukaan dan hilangnya stiga dan diskriminasi sangat perlu mendapat perhatian dimasa mendatang.



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Narkobaatau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang ( pikiran, perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.NAPZA merupakan kepanjangan dari  : Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya
Masalah penyalahguanaan NARKOBA / NAPZA khususnya pada remaja adalah ancaman yang sangat mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada umumnya.Pengaruh NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun dampak sosial yang ditimbulkannya.
Begitu pula dengan hiv aids meskipun kita tau belum adanya obat untuk menyembuhkan penyakit ini, serta proses penularanya yang mudah dan yang tersulit untuk menditeksi dalam mengenali gejala aids karena membutuhkan waktu inkubasi yang lama sampai 5-10 tahun,karna itu kita harus senantiasa waspada guna menghindari terjanngkitnya penyakit aids yang mematikan ini serta ikut serta dalam pencegahan penyebaranya yang semakin meluas dengan cara menghindari melakukan sex bebas, pengunaan jarum suntikyang tidak steril, serta tidak mengunakan barang barang pribadi yang telah terjangkit virus hiv +.
Masalah pencegahan penyalahgunaan NAPZA maupun penyebaran virus HIV AIDS bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja, melainkan menjadi tugas kita bersama.Upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA maupaun HIV AIDS yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan tersebut.
Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di sekolah maupun masyarakat  sangatlah besar bagi pencegahan penaggulangan terhadap NAPZA dan virus HIV AIDS.



DAFTAR PUSTAKA

http://tuanpitri.com/kimia/jenis-jenis-napza-dan-penyalahgunaannya-dalam-kehidupan-sehari-harihttp://tuanpitri.com/kimia/jenis-jenis-napza-dan-penyalahgunaannya-dalam-kehidupan-sehari-hari
Diusun oleh: Jafet Suhadi (jspinhijau@yahoo.comAlamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya ) dengan referensi dari : www.fhi.org
Disusun oleh siswoyo, kesehatan dan olah raga asmani, smk texmaco pemalang2010